Oleh: Ali Adhim*
Ada sebuah kesalahpahaman yang diwariskan dari generasi ke generasi: semakin mahal biaya pendidikan, semakin tinggi pula kecerdasan seseorang. Seolah-olah ilmu adalah barang mewah yang hanya bisa dibeli oleh mereka yang memiliki rekening tebal. Padahal sejarah berkali-kali membuktikan sebaliknya.
Ilmu tidak pernah lahir dari besarnya uang. Ia lahir dari besarnya rasa ingin tahu. Sekolah boleh mahal, tetapi berpikir tidak pernah dipungut biaya. Buku boleh usang, tetapi gagasan di dalamnya tetap muda. Pengetahuan tidak memilih siapa yang berhak memilikinya.
Kita terlalu sering mengagumi gedung sekolah, tetapi lupa menghormati kebiasaan membaca. Kita sibuk mengejar kampus bergengsi, tetapi malas membuka halaman pertama sebuah buku. Padahal masa depan seseorang lebih sering ditentukan oleh apa yang ia baca setelah lulus, bukan oleh papan nama sekolah tempat ia pernah belajar.
Di zaman ini, ilmu justru bertebaran di mana-mana. Ribuan buku tersedia dalam bentuk digital. Kuliah dari universitas terbaik dunia dapat diakses secara gratis. Video pembelajaran, jurnal ilmiah, hingga kecerdasan buatan hadir setiap hari, menunggu siapa saja yang mau bertanya.
Ironisnya, akses terhadap ilmu semakin mudah, tetapi manusia semakin sulit berkonsentrasi. Kita sanggup menonton video pendek selama berjam-jam, namun menganggap membaca sepuluh halaman buku sebagai pekerjaan yang berat. Yang mahal hari ini bukan pendidikan. Yang mahal adalah perhatian.
Orang miskin bisa menjadi pintar apabila rajin belajar. Sebaliknya, orang kaya tetap bisa bodoh apabila merasa tidak perlu belajar lagi. Sebab kekayaan hanya mampu membeli fasilitas, tetapi tidak pernah mampu membeli rasa ingin tahu.
Lihatlah para ulama, ilmuwan, penemu, dan tokoh besar sepanjang sejarah. Banyak di antara mereka lahir dari keluarga sederhana. Mereka tidak memiliki ruang kelas yang megah, tetapi memiliki tekad yang jauh lebih besar daripada keterbatasannya. Mereka menjadikan perpustakaan sebagai istana, buku sebagai sahabat, dan waktu sebagai guru.
Pendidikan sejati sesungguhnya dimulai ketika seseorang tidak lagi diwajibkan belajar. Ketika tidak ada lagi guru yang mengawasi, tidak ada ujian yang mengancam, dan tidak ada nilai yang harus dikejar. Di situlah terlihat siapa yang benar-benar mencintai ilmu dan siapa yang hanya mengejar ijazah.
Ijazah dapat membuka pintu pertama. Namun pengetahuanlah yang membuat seseorang tetap bertahan di dalamnya. Dunia tidak lagi bertanya berapa mahal biaya sekolahmu. Dunia bertanya: masalah apa yang mampu kau selesaikan, gagasan apa yang mampu kau ciptakan, dan manfaat apa yang mampu kau berikan.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti mengatakan kepada anak-anak, “Belajarlah agar masuk sekolah yang mahal.” Katakanlah kepada mereka, “Belajarlah agar tidak mudah ditipu, tidak mudah dikendalikan, dan mampu mengubah hidupmu sendiri.”
Sebab pada akhirnya, yang membuat seseorang menjadi pintar bukanlah uang yang ia keluarkan, melainkan waktu yang ia korbankan. Bukan biaya yang ia bayarkan, melainkan rasa ingin tahu yang tidak pernah ia matikan.
Ilmu tidak pernah dijual kepada orang kaya. Ilmu hanya diberikan kepada mereka yang bersedia mencarinya.



